8+ Kesalahan Investasi Saham Dilakukan Pemula 2022

8+ Kesalahan Investasi Saham Dilakukan Pemula 2022Newsbugs – Saham merupakan investasi yang dapat memberikan return tertinggi. Sayangnya, banyak orang membuat kesalahan dan gagal. Apa kesalahan paling umum yang dilakukan pemula saat berinvestasi saham?

Saham merupakan pilihan investasi terbaik di antara beberapa metode investasi lainnya.

  • saham memberikan return investasi tertinggi dibandingkan pilihan investasi lain.
  • saham sangat mudah dicairkan. Sesuai ketentuan Bursa, dalam waktu 3 hari sejak transaksi, T+3, maka dana hasil penjualan sudah masuk ke rekening investor.

Mari kita lihat kesalahpahaman umum orang-orang yang baru mengenal dunia perdagangan saham.

1. Tidak Paham Apa itu Saham

Banyak orang terjun untuk membeli saham, tapi tidak tahu apa itu saham. Bagaimana cara kerjanya dan apa yang membuatnya bekerja?

Banyak orang membeli hanya karena mereka melihat berinvestasi di saham dan keuntungannya tinggi. Tanpa benar-benar mengerti

Memahami apa itu saham itu penting. Pemahaman membantu Anda membuat keputusan investasi yang tepat. Kepanikan itu tidak mudah, tidak mudah terpengaruh oleh rumor atau rumor yang tidak berdasar.

2. Tidak Pakai Uang Dingin

Penting untuk diketahui bahwa saham tidak memiliki risiko kecil. Hal ini dapat dinilai dari fluktuasi harga saham yang tiba-tiba di pasar.

Banyak orang berinvestasi hanya di saham dengan harapan mendapatkan keuntungan cepat. Semua uang Anda akan diinvestasikan dalam instrumen ini.

Istilah ini tidak menggunakan uang dingin. Investasi saham karena biaya kuliah dan sewa bulanan juga tergiur dengan kenaikan harga saham.

Saat harga turun, Anda panik karena harus segera menggunakan uang yang Anda investasikan. Lagi pula, orang cenderung menjual saham terlalu cepat pada waktu yang salah.

Lebih buruk lagi, tidak ada uang yang dikembalikan, apalagi keuntungan, dan harga tiba-tiba turun. Sekolah anak-anak, perencanaan keuangan, dan praktik investasi saham yang buruk terpengaruh. Penting untuk menghabiskan uang dingin. Uang yang tidak kita butuhkan dalam jangka pendek, atau uang yang ingin kita hilangkan.

Dengan uang dingin, proses investasi jauh lebih mudah. Jadi, daripada terburu-buru mencari untung, Anda bisa mendinginkan pikiran dan membuat keputusan yang lebih akurat. Jangan khawatir tentang kehilangan investasi Anda.

3. Tidak Diversifikasi Portfolio

Itu tidak diversifikasi. Semua uang diinvestasikan dalam saham.

Ini mungkin karena fenomena FOMO – Worry of Lacking Out. Takut ketinggalan perahu, ingin cepat untung setelah melihat harga saham dalam waktu singkat.

Diversifikasi portofolio merupakan langkah penting dalam berinvestasi. Ini sudah menjadi standar bahwa Anda tidak boleh menaruh semua uang Anda dalam satu instrumen, terutama yang memiliki risiko sangat tinggi.

Saham sangat menarik sebagai sarana investasi. Hasil tinggi, sangat likuid, perdagangan mudah dan sangat populer.

Namun, risikonya juga tinggi. Fluktuasi harga saham bisa sangat ekstrim. Peringatan kami adalah: Jangan menginvestasikan semua uang Anda di saham. Taruhan sebanyak yang kita bisa kalah.

4. Ingin Untung Cepat, Tidak Sabar, Jangka Pendek

Mengapa ketidaksabaran menjadi penyebab masalah?

Padahal, kesabaran diperlukan untuk semua alat investasi, bukan hanya saham. Alasannya sederhana. Berinvestasi membutuhkan proses dan tidak bisa dilakukan secara instan.

Dalam hal saham, kesabaran lebih dibutuhkan karena perusahaan dari perusahaan tempat kita membeli tidak bisa langsung berkembang.

Saham merupakan cerminan kinerja suatu perusahaan dan tentunya membutuhkan waktu untuk berkembang. Tidak bisa lebih cepat dari ini

Begitu persediaan bergerak cepat, masalah terjadi di penghujung hari. Mungkin rip-off, rip-off atau kinerja akan menjadi masalah nanti.

Soalnya banyak orang di saham yang sangat tertarik untuk cepat kaya dan ingin langsung untung. Saya ingin membelinya hari ini, saya akan segera mendapat untung besok. Ketidaksabaran untuk berinvestasi membuat kita tidak bisa memaksimalkannya. Jika harga turun, Anda segera menjual dan berharap melihat harga naik lagi.

Anda dapat melihat sejarah harga saham selama 20 tahun terakhir di BEI.

Selama 20 tahun terakhir, harga saham IHSG telah meningkat 20 kali lipat. Harga tidak naik terus-menerus, tetapi sangat berfluktuasi. Bayangkan sejenak Anda dialihkan ke dunia Earl yang digerakkan oleh karma. Alhasil, kita tahu bahwa mereka yang bosan tidak bisa mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga saham hingga puluhan kali lipat.

5. Lebih Percaya Rumor daripada Informasi Resmi

Ada banyak informasi di dunia saham tentang hal ini. Kami tidak akan kekurangan informasi.

Masalahnya adalah bagaimana menyaring informasi ini. Pastikan informasi mana yang benar dan mana yang palsu.

Masalahnya adalah banyak orang lebih percaya rumor daripada informasi resmi perusahaan. Sumber informasi terbaik adalah Bursa Efek Indonesia (BEI).

BEI atau BEI mewajibkan perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa untuk menyampaikan laporan keuangan, laporan tahunan, saham perusahaan atau pengumuman lainnya kepada publik melalui portal BEI.

Informasi saham di BEI tidak hanya legit, official tetapi juga free of charge.

Oleh karena itu, saran saya kepada para pemula yang akan melakukan analisa basic saham adalah menggunakan sumber informasi BEI sebagai benchmark.

6. Mengabaikan Dividen Saham

Dividen banyak diabaikan karena dianggap kecil, uang receh. Orang lebih berharap pada kenaikkan harga, capital acquire.

Dividen adalah pembagian keuntungan yang dibagikan oleh perusahaan atas kepemilikan saham. Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS.

Jika seorang pemodal ingin mendapatkan dividen, maka pemodal tersebut harus memegang saham tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama yaitu hingga kepemilikan saham tersebut berada dalam periode dimana diakui sebagai pemegang saham yang berhak mendapatkan dividen. Pengembalian atau return atas dividen saham sangat menarik.

WTCB bisa memberikan return hingga 50% per tahun, sedangkan PTBA 19% per tahun.

Pendapatan adalah pengembalian yang diberikan dividen kepada pemegang saham. Lebih banyak lebih baik dan sebaliknya.

Patokan tingkat pengembalian setidaknya sama dengan bunga deposito financial institution. Tentu saja nilai return itu ditentukan oleh kinerja harga saham. Semakin tinggi harga saham dengan nilai dividen harga saham yang sama, semakin rendah imbal hasil. Dan sebaliknya.

Dividen yield yang tinggi merupakan modal penting bagi kita untuk hidup atau menghilangkan dividen saham. Semakin tinggi hasil, semakin aman dan berkelanjutan untuk mengandalkan dividen sebagai sumber pendapatan setelah pensiun.

7. Tidak Coba Reksadana Saham

Banyak orang ingin mengambil tindakan, tetapi tidak punya waktu untuk menganalisisnya. Beberapa orang tidak mengerti saham sama sekali, tetapi penting untuk memahami berinvestasi di saham.

Saran saya, pilih reksa dana dulu. Reksa dana jenis ini menempatkan portofolio pada saham dan dikelola oleh manajer investasi.

Manfaat berinvestasi di reksa dana antara lain:

  • Tidak perlu mengurus sendiri soal investasi saham, cukup serahkan ke manajer investasi yang sudah berpengalaman
  • Mendapatkan manfaat diversifikasi portofolio di Reksadana, yang kemungkinan tidak akan kita dapatkan jika membeli saham sendiri
  • Minimal investasi di Reksadana sangat terjangkau. Bisa mulai dari Rp 100 ribu
  • Belajar secara langsung soal perkembangan dunia saham terkait naik turunnya harga dan kinerja return

8. Tidak Investasi Reksadana Indeks dan ETF Saham

Pemula yang masih takut sekarang dapat dengan mudah berinvestasi di pasar saham dengan membeli dana indeks dan dana ETF. Alat ini menawarkan efisiensi luar biasa melalui sekeranjang pilihan yang masuk akal.

Berbeda dengan reksa dana, reksa dana indeks dan ETF memiliki kemampuan untuk berinvestasi pada saham-saham yang direferensikan dalam indeks seperti IDX30 atau LQ45.

Manajer investasi reksa dana indeks dan ETF tidak memerlukan analisis aktif karena daftar saham dalam suatu indeks ditentukan oleh pihak yang membuat indeks berdasarkan metodologi tertentu.

Misalnya, LQ45 ETF di BEI atau S&P 500 ETF di NYSE membeli saham manajer investasi dengan mencari isi indeks LQ45 atau S&P 500, baik nama saham maupun jumlahnya. Investor kolektif tidak akan mengubah saham ETF kecuali komposisi saham indeks berubah.

Itu sebabnya kami menyebut reksa dana indeks dan ETF sebagai investasi pasif.

Apa perbedaan antara dana indeks dan ETF?

  • Kalau Reksadana Indeks, kita pergi ke Manajer Investasi atau agen penjual Reksadana seperti Bareksa, Tanam Duit, Ajaib untuk beli dan jual.
  • Kalau ETF, sesuai namanya, trade traded fund, adalah fund yang diperdagangkan di trade atau bursa saham, sehingga jual beli ETF dilakukan lewat bursa layaknya seperti jual beli saham.

Keuntungan berinvestasi di Reksadana Indeks dan ETF adalah:

Diversifikasi. Kita bisa melakukan diversifikasi portofolio dengan cukup membeli ETF atau Reksadana Indeks karena isinya adalah berbagai jenis saham sesuai dengan isinya indeks.

Berbeda dengan beli saham yang harus beli satu – satu perusahaan, kita cukup beli satu ETF dan itu artinya sudah beli berbagai saham perusahaan yang menjadi komposisi ETF tersebut.

Price ETF dan RD Indeks Murah. Manajer Investasi di ETF mengelola investasi secara pasif. Pasif berarti membeli surat berharga berdasarkan komposisi indeks yang digunakan manajer investasi sebagai tolak ukur ETF.

ETF dan belief menonaktifkan investasi dengan menggunakan indeks sebagai tolok ukur, sehingga biaya investasi sangat rendah.

Karena biayanya yang rendah, ETF dan reksa dana indeks dapat menghasilkan laba bersih atau laba bersih yang lebih tinggi daripada reksa dana yang diperdagangkan secara aktif.

Be the first to comment